Kali
ini tugas mata kuliah Psikologi Lingkungan. Yaitu membahas mengenai teori dasar
antara hubungan manusia dengan lingkungannya. Diantaranya yaitu teori stimulus
dan respon dan
teori kognitif yang akan dibahas pada halaman
ini.
TEORI STIMULUS
DAN RESPON
Beberapa
istilah yang perlu diingat adalah :
·
Stimulus adalah peristiwa yang terjadi baik di luar maupun di
dalam tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya suatu perubahan tingkah laku.
·
Respons adalah perubahan yang disebabkan oleh adanya
stimulus.
Salah
satu tokoh behaviorist bernama John B. Watson (1878 - 1958) yang dianggap
memiliki pandangan radikal mengemukakan gagasannya dalam sebuah tulisan yang dituangkannya
dalam makalah yang berjudul “Psychology
as the behaviorist views it” (1931). Sebagai berikut :
Pertama, Watson
menentang aliran psikologi terdahulu yang dianggapnya tidak ilmiah. Bila
psikologi ingin diakui sebagai ilmu yang benar-benar ilmiah, maka ia
harus membuang fenomena kejiwaan yang tidak ilmiah yang mempelajari
gejala kesadaran (consciousness) dengan metode
introspeksi. Gejala kejiwaan yang sifatnya subyektif seperti cita-cita, harapan
dan imajinasi selain tidak nyata juga tidak bisa diukur secara obyektif. Yang
bisa diukur dan diamati adalah perilaku nyata (observable
behavior), misalnya, menulis, berbicara, membaca, berjalan, dan lain-lain.
Seseorang yang bisa membaca dapat diamati dari mulai tidak bisa membaca sama
sekali, membaca satu halaman dengan susah payah, membaca dengan lancar, dan
menyelesaikan bahan bacaan satu, dua, tiga halaman sampai satu buku dengan cepat.
Maka bisa dipahami bila Behaviorisme sangat besar
pengaruhnya terhadap psikologi pembelajaran karena
prinsip belajar adalah terjadinya perubahan perilaku.
Kedua, Watson
menentang psikologi yang mengakui faktor kemampuan (abilities). Bagi Watson,
“lingkungan” adalah segalanya. Dalam hubungan ini Watson mengemukakan
pernyataan yang sifatnya menantang (terjemahan bebas penulis).
Tulisan
tersebut dikembangkan dari gagasan dasar Pavlov yang merupakan landasan aliran
psikologi Behaviourisme yaitu berasal dari hasil
eksperimennya yang menyatakan bahwa semua perilaku manusia
merupakan hasil conditioning (pengondisian). Kuat atau lemahnya
asosiasi stimulus-respon (S-R) ditentukan oleh conditioning.
PSIKOLOGI LINGKUNGAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KOGNITIF
Teori yang berorientasi lingkungan
dalam Psikologi lebih
banyak dikaji oleh
behavioristik. Perilaku terbentuk karena pengaruh umpan balik (pengukuh
positif dan negatif) dan pengaruh modelling. Dilukiskan bahwa manusia sebagai
black-box yaitukotak hitam yang siap
dibentuk menjadi apa
saja. Dalam Psikologi
Lingkungan, teori yang
berorientasi lingkungan, salah
satu aplikasinya adalah
geographical determinant yaitu
teori yang memandang perilaku
manusia lebih ditentukan faktor lingkungan dimana manusia hidup yaitu apakah di pesisir, di pegunungan, ataukah di
daratan. Adanya perbedaan lokasi di mana tinggal dan berkembang akan menghasilkan perilaku yang
berbeda. Ada
proses interaksi
antara kapasitas diri
dengan stimulasi lingkungan.
Artinya, manusia dapat
mempengaruhi lingkungan dan
lingkungan dapat dipengaruhi
oleh manusia.
Teori “Stimulus dan respon” sendiri adalah merupakan sebuah teori yang
dicetuskan oleh Gage dan Berliner, tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman pertama. Pengalaman adalah hasil sentuhan alam dengan panca
indra manusia. Berasal dari kata Peng-alam-an. Pengalaman memungkinkan
seseorang menjadi tahu dan hasil tahu itu disebut pengetahuan. Dalam dunia
kerja istilah pengalaman juga digunakan untuk merujuk pada pengetahuan dan
ketrampilan tentang sesuatu yang diperoleh melalui keterlibatan dengannya
selama periode tertentu. belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah
laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.
Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain dari
aliran behavioristik adalah faktor penguatan (Reinforcement). Bila penguatan
ditambahkan (Positive Reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula
bila respon dikurangi atau dihilangkan (Negetive Reinforcement) maka respon
juga semakin kuat.
Jean Piaget
menyebutkan bahwa struktur kognitif sebagai Skemate (Schmas), yaitu kumpulan
dari skema-skema. Seorang individu dapat mengikat, memahami dan memberikan
respon terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini
berkembang secara kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan
lingkungannya. Dengan demikian seorang individu yang lebih dewasa memiliki
struktu kognitif yang lebih lengkap dari pada ketika ia masih kecil. Seorang
anak yang baru pertama kali melihat buaya akan menyebutnya sebagai cecak besar,
karena cecaklah yang selalu dilihatnya di rumah dan cecaklah yang paling dekat
dengan stimulusnya.
Perkembangan skemata
ini berlangsung terus-menerus melalui adaptasi dengan lingkungannya. Skemata
tersebut membentuk suatu pola penalaran tertentu dalm pikiran anak. Makin baik
kualitas skema ini, makin baik pulalah pola penalaran anak tersebut. Proses
terjadinya adaptasi dari skemata yang telah terbentuk dengan stimulus baru
dilakukan dengan dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses pengintegrasian secara langsung stimulus baru kedalam
skema yang telah terbentuk. Sedangkan akomodasi adalah proses pengintegrasian
stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara tidak
langsung.
Pengetahuan lingkungan seseorang terhadap Iingkungannya merupakan
unsur dasar dalam penyesuaian
manusia yang merupakan persyaratan yang
baik bagi manusia untuk survive
dan untuk mempengaruhi perilakunya. Dalam
hal ini yang dimaksud
adalah peta kognitif,
yaitu semua pengetahuan yang
terkumpulkan dan terorganisasikan
yang dimiliki oleh organisme tentang dirinya
sendiri dan tentang dunianya.
DAFTAR PUSTAKA
Helmi, A.F.,
1994. Hidup di
Kota Semakin Sulit.
Bagaimana Strategi Adaptasi
yang Efektif dalam Situsi Kepadatan Sosial ? Buletin
Psikologi, II (2)1-5.
Yulistiana,
dkk. 2017. HUBUNGAN ANTARA PETA KOGNITIF DAN PERSEPSI LINGKUNGAN
DENGAN PERILAKU SISWA YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN. Jurnal Pendidikan Lingkungan Hidup.
Vol-5. No 2