Salam lestari! Dalam Catatan Kuliah Psikologi kali ini saya akan mengangkat topik mengenai 'Budaya Organisasi'. Nah, untuk lebih spesifiknya, yang akan saya bahas yaitu Budaya Organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) di Universitas Gajayana Malang yang dikenal dengan sebutan Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KAPA'85). Artikel ini saya tulis selain bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan wawasan, juga sebagai syarat memenuhi tugas mata kuliah yang saya ambil. Sedikit info dari saya, selain berperan sebagai Mahasiswa Psikologi di Universitas Gajayana Malang, saya juga berperan sebagai salah satu anggota di Unit Kegiatan Mahasiswa KAPA'85. Maka dari itu, artikel ini ditulis dengan sebenar-benarnya dengan tanpa berniat mengurangi suatu dan lain hal. Selamat membaca!
BUDAYA ORGANISASI MAHASISWA PECINTA ALAM DI UNIVERSITAS GAJAYANA MALANG
Abstrak:
Pengamatan Budaya Organisasi ini ditujukan pada sebuah organisasi
pecinta alam di Universitas Gajayana Malang mengenai budaya penerapan kedisiplinan anggota
organisasi dalam mengerjakan kinerja di organisasi yang saling berketerkaitan dengan perannya sebagai mahasiswa
di Universitas Gajayana Malang. Model pengamatan dikembangkan sesuai dengan teori-teori yang berlaku. Metode yang digunakan
dalam pengamatan yaitu dengan cara observasi partisipan, dimana penulis ikut
berperan serta dalam kegiatan yang dilakukan dalam organisasi.
Organisasi Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KAPA’85) dipilih
sebagai obyek pengamatan dengan kondisi terkininya, yaitu kurangnya kedisiplinan
beberapa anggota organisasi dalam menjalankan perannya sebagai mahasiswa aktif di
Universitas Gajayana Malang.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa motivasi
intrinsik dan kejelasan peran mempengaruhi kedisiplinan secara positif, dan
budaya organisasi mempengaruhi keinginan untuk pindah secara negatif (artinya
makin tinggi budaya organisasi, maka akan semakin rendah kemungkinan untuk
pindah). Pernyataan tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
Latar Belakang:
Sebuah organisasi dalam pelaksanaan pengorganisasian
operasional membutuhkan sumber daya sebagai sarana yang mengelola pelaksanaan pengorganisasian.
Pada dasarnya, sumberdaya organisasi dibagi menjadi dua, yaitu sumberdaya
manusia dan sumberdaya non manusia. Keduanya merupakan hal yang sangat penting
dalam pencapaian tujuan organisasi. Terkait dengan pencapaian tujuan, pembahasan
ini tidak terlepas dari pelakunya yaitu anggota organisasi.
Anggota adalah unsur terpenting dalam organisasi.
Apalagi jika organisasi tersebut merupakan organisasi disebuah instansi
pendidikan, dikenal dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lebih tepatnya. Seiring
dengan peran anggota organisasi sebagai mahasiswa disebuah universitas, maka
dari itu anggota organisasi dituntut untuk meningkatkan kemampuannya secara
maksimal, salah satunya adalah dengan meningkatkan profesionalisme serta
kompetensi dalam dirinya dalam rangka peningkatan kualitas diri dalam bentuk
kedisiplinan.
Kedisiplinan merupakan hal yang penting, karena pada
dasarnya anggota organisasi dalam Unit Kegiatan Mahasiswa adalah individu yang
diberikan amanat dalam menjalankan perannya sebagai mahasiswa.
Namun kenyataannya, sampai saat ini masih ada
pemberitaan mengenai buruknya kedisiplinan anggota organisasi pecinta alam yang
juga berperan sebagai pelajar. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk
menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan anggota organisasi
Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KAPA’85) yang merupakan salah satu Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Gajayana Malang.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada latar
belakang, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana
motivasi intrinsik anggota KAPA’85, juga kejelasan perannya sebagai
mahasiswa, dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kedisiplinan anggota.
Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk
mengetahui kesadaran peran anggota KAPA'85 sebagai mahasiswa Universitas Gajayana Malang dan faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinannya.
Analisis Kasus:
Dalam organisasi pecinta alam di Universitas
Gajayana Malang, yaitu Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KAPA’85) memiliki budaya yang disebut dengan istilah ‘2 seri’ dalam menanggapi segala bentuk
pelanggaran. Termasuk dengan masalah kedisiplinan. Seperti terlambat hadir
dalam upacara atau rapat, tidak memakai scraf, sepatu atau celana panjang
ketika hadir dalam kegiatan resmi. ‘2 seri’ tersebut merupakan 40 kali push up yang menjelaskan bahwa budaya '2 seri' dalam kedisiplinan KAPA'85 adalah bentuk hukuman pelanggaran yang paling berat dilingkungan Universitas Gajayana Malang.
Akan tetapi, dengan adanya budaya yang sudah sah sejak lama, para pelanggar kedisiplinan masih terus melakukan pelanggaran dan cenderung
menggampangkan hukuman tersebut. Kecenderungan tersebut pasti tidak bisa
ditolerir lagi dalam kinerja organisasi. Apalagi hal tersebut terjadi
berulang-ulang. Namun, dengan tidak adanya tindakan yang lebih tegas melebihi budaya ‘2 seri’, maka para pelanggar kedisiplinan tidak berpindah
kearah dispilin yang lebih positif.
Peraturan yang merupakan bagian dari tradisi KAPA’85
tersebut pada akhirnya menjadi peraturan yang telah wajar digampangkan oleh anggota dan tidak layak lagi dijadikan landasan motivasi bagi anggota organisasi dalam meningkatkan
kedisiplinan. Terutama dalam menjalankan peran sebagai mahasiswa di Universitas Gajayana Malang.
Kajian Teoritik:
I.
Motivasi
a.
Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari
kata Latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi
(motivation) dalam manajemen hanya ditujukan kepada sumber daya manusia umumnya
dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan
daya dan potensi bawahan agar mau bekeja sama secara produktif berhasil
mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan, Hasibuan (2005).
Gibson dkk (1997)
menyatakan bahwa: “Motivasi sebagai suatu dorongan yang timbul pada atau di
dalam seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku.”. Sedangkan
menurut Sedarmayanti (2001), motivasi dapat diartikan sebagai daya pendorong
(driving force) yang menyebabkan orang berbuat sesuatu atau diperbuat karena
takut akan sesuatu. Misalnya ingin naik pangkat atau naik gaji, maka
perbuatannyaakan menunjang pencapaian keinginan tersebut.
Berdasarkan pendapat
para ahli diatasdapat disimpulkan bahwa tidak ada motivasi jika tidak dirasakan
adanya kebutuhan dan kepuasan serta keseimbangan. Rangsangan terhadap hal
termaksud akan menumbuhkan tingkat motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh
akan merpakan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan. Motif
merupakan suatu dorongan kebutuhan dari dalam diri petugas yang perlu dipenuhi
agar petugas tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, sedangkan
motivasi adalah kondisi yang menggerakkan petugas agar mampu mencapai tujuan
dari motifnya.
b.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Motivasi
Faktor motivasi
dibedakan menjadi dua, yang pertama dinamakan situasi motivasi yang
“subjective” atau faktor intrinsik dan yang kedua adalah faktor “objective”
atau faktor ekstrinsik. Faktor-faktor intrinsik adalah faktor-faktor yang
timbul dari individu petugas dengan pekerjaanya yang sering disebut pula
sebagai “Job content factor” Faktor tersebut diantaranya meliputi keberhasilan
dalam melaksanakan tugas, memperoleh pengakuan atas prestasinya, memperoleh
tanggung jawab yang lebih besar dan memperoleh kemajuan kedudukan melalui
promosi jabatan. Sejauh mana semuanya itu dapat terpenuhi secara positif bagi
petugas, maka sejauh itu pula dorongan/daya motivasinya untuk bekerja bagi
tercapainya tujuan organisasi.
c.
Manfaat Motivasi
Manfaat motivasi yang
utama adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas kerja meningkat.
Sementara itu manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang
termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Artinya pekerjaan
diselesaikan sesuai standar yang ditetapkan dan dalam skala waktu yang sudah
ditentukan, serta orang senang melakukan pekerjaannya.
Sesuatu yang dikerjakan
dengan adanya motivasi yang mendorongnya akan membuat orang senang
melakukannya. Orang pun akan merasa dihargai atau diakui, hal ini terjadi
karena pekerjaannya itu betul-betul berharga bagi orang yang termotivasi,
sehingga orang tersebut akan bekerja keras. Hal ini dimaklumi karena dorongan
yang begitu tinggi menghasilkan sesuai target yang mereka tetapkan.
Kinerjanya
akan dipantau oleh individu yang bersangkutan dan tidak akan membutuhkan
terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi (Arep dan
Tanjung: 2003).
II.
Kedisiplinan
a.
Pengertian Kedisiplinan
Disiplin cendrung diartikan sebagai hukuman dalam
arti sempit, namun sebenarnya disiplin mempunyai arti yang lebih luas dari
sekedar hukuman. Menurut Moekijat (1994) “Disiplin adalah kesanggupan menguasai
diri yang diatur, disiplin berasal dari kata latin, yaitu disciplina yang
artinya latihan atau pendidikan, kesopanan dan kerohanian serta pengembangan
tabiat, disiplin menitikberatkan pada bantuan karyawan untuk mengembangkan
sikap yang baik terhadap pekerjaan.” Nitisemito (1982) menyatakan
bahwa,”Kedisiplinan diartikan sebagai suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan
yang sesuai dengan peraturan dari organisasi baik yang tertulis maupun tidak”. Heid
jrachman
Dan Husnan,(2002) mengungkapkan ”Disiplin adalah setiap perseorangan dan juga
kelompok yang menjamin adanya kepatuhan terhadap perintah dan berinisiatif
untuk melakukan suatu tindakan yang diperlukan seandainya tidak ada perintah”.
Menurut Davis (2004) bahwa, “Disiplin adalah suatu
tindakan manajemen memberikan semangat kepada pelaksanaan standar organisasi, ini adalah pelatihan
mengarah kepada upaya membenarkan dan melibatkan pengetahuan-pengetahuan dan
perilaku petugas sehingga ada kedisiplinan pada diri petugas, untuk menuju pada
kerjasama dan prestasi yang lebih baik”.
b.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Kedisiplinan
Disiplin merupakan bentuk pelatihan yang menegakkan
peraturan-peraturan organisasi. Disiplin yang terbaik adalah jelas disiplin
diri karena sebagian besar orang memahami apa yang diharapkan dari dirinya
dipekerjaan, dan biasanya karyawan diberi kepercayaan untuk menjalankan
pekerjaannya secara efektif. Hasibuan
(2005) menyatakan bahwa, disiplin yang tinggi dari para petugas akan
memungkinkan tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien. Untuk
dapat menegakkan disiplin yang tinggi maka pimpinan organisasi harus
memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya disiplin petugas
yaitu : tujuan dan kemampuan, teladan pimpinan, balas jasa, keadilan, pengawasan melekat (waskat), sanksi
hukuman, ketegasan, dan hubungan kemanusiaan. Semua faktor itu pasti berpengaruh terhadap penerapan disiplin
dalam organisasi.
Mengacu pada Dessler (2000), “discipline is a
procedure that corrects or punishes a subordinate because a rule or procedure
has been violated”. Disiplin adalah suatu sikap menghormati,menghargai, patuh,
dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun yang
tidak tertulis serta sanggup menjalankan dan tidak mengelak untuk menerima
sanksi- sanksinya, apabila anggota organisasi yang bersangkutan melanggar tugas
dan wewenang yang diberikan kepadanya. Prilaku disiplin petugas merupakan
sesuatu yang tidak muncul dengan sendirinya, tetapi perlu dibentuk. Oleh karena
itu pembentukan disiplin kerja menurut Handoko (2001) dapat dilakukan melalui
dua cara yaitu :
1.
Disiplin
Preventip (Preventive discipline).
Disiplin
preventip merupakan tindakan yang diambil untuk mendorong para pekerja
mengikuti atau mematuhi norma-norma dan aturan-aturan sehingga
penyelewengan-penyelewengan tidak terjadi. Tujuannya adalah untuk mendorong
disiplin diri dan diantara para karyawan. Dengan cara ini karyawan menjaga
disiplin diri mereka bukan semata-mata karena dipaksa manajemen.
2.
Disiplin
Korektip (Corrective discipline).
Disiplin
Korektip merupakan suatu kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran
terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran
lebih lanjut. Kegiatan korektip sering berupa suatu bentuk hukuman dan disebut
tindakan pendisiplinan (disciplinary action).
Kedisiplinan dalam
suatu organisasi dapat ditegakkan bilamana sebagian besar
peraturan-peraturannya ditaati oleh sebagian besar para petugas yang ada dalam
organisasi tersebut. Menegakkan kedisiplinan penting bagi suatu organisasi,
sebab dengan kedisiplinan itu dapat diharapkan sebagian besar dari
peraturan-peraturan ditaati oleh sebagian besar para petugas. Dengan adanya
kedisiplinan tersebut, dapat diharapkan pekerjaan akan dilakukan seefektif dan
seefisien mungkin. Karena dengan adanya disiplin yang baik mencerminkan
besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan
kepadanya.
III.
Kinerja
a.
Pengertian Kinerja
Kinerja merupakan
terjemahan dari bahasa Inggris dari kata work performance atau job performance
atau biasa disingkat dengan performance saja. Dalam bahasa Indonesia disebut
juga dengan prestasi kerja yang diartikan sebagai kesuksesan seseorang dalam
melakukan pekerjaan. Berdasarkan pengertian tersebut job performance dapat
diartikan sebagai hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku
untuk pekerjaan yang bersangkutan.
Kinerja merupakan hasil
pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi,
kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi, Amstrong dan Baron
dalam Wibowo (2007). Lebih lanjut Wibowo (2007) menyatakan bahwa, “Kinerja
adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan
tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara
mengerjakannya”.
Menurut Mangkunegara
(2005) “Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seseorang karyawan/pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dengan demikian kinerja adalah
kesediaan seseorang atau kelompok orang
untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan
tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan”.
Lebih tegas lagi,
Lawler dan Poter dalam As’ad (2003) menyatakan bahwa kinerja adalah succesfull
role achievement yang diperoleh seseorang dari perbuatan-perbuatannya. Jadi kinerja atau prestasi kerja
(performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, ketrampilan,
motivasi dan kedisiplinan dalam menghasilkan sesuatu.
b.
Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Kinerja
Mathis dan Jackson
(2002) menyatakan bahwa banyak faktor
yang mempengaruhi kinerja dari individu tenaga kerja, yaitu kemampuan mereka,
motivasi, dukungan yang diterima, keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan
hubungan mereka dengan organisasi. Selanjutnya Prawirosentono (1999) menyatakan
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain : efektivitas dan
efisiensi, wewenang, disiplin, inisiatif, motivasi, semangat kerja. Menurut
Suprihanto (2000) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai antara lain :
bakat, pendidikan dan latihan, lingkungan dan fasilitas, iklim kerja, motivasi
dan kemampuan hubungan industrial, teknologi manajemen, kesempatan berprestasi
dan lain sebagainya.
c.
Mengidentifikasi dan Mengukur Kinerja
Pada hakikatnya masalah
pelaksanaan penilaian dan pengukuran kinerja itu terletak pada unsur yang harus
menilai, yang dinilai dan seluruh aparat yang tersangkut dengan manajemen
sumber daya manusia, (Buchari 2001). MenurutIstijanto (2005), untuk memperbaiki
atau meningkatkan prestasi kerja karyawan dapat dilakukan pengukuran terhadap
aspek-aspek kerja karyawan yang meliputi kualitas kerja, tanggung jawab
terhadap pekerjaan, kerja sama, motivasi kerja dan inisiatif.
Penilaian unsur-unsur
ini memberi informasi yang sangat berharga bagi pengelolaan sumber daya manusia
dalam organisasi. Menurut Umar dalam Mangkunegara (2005) untuk mengukur kinerja
pegawai dapat dilihat dari aspek-aspek antara lain :
1)
Mutu
pekerjaan,
2)
Kejujuran,
3)
Inisiatif,
4)
kehadiran,
5)
Sikap,
6)
Kerjasama,
7)
Kehandalan,
8)
Pengetahuan
tentang pekerjaan,
9)
Tanggung jawab,
10) Pemanfaatan waktu.
Kinerja merupakan suatu
fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan
seseorang sepatutnya memiliki derajad kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu,
kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan
sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan
bagaimana mengerjakannya.
IV.
Budaya Organisasi
a.
Pengertian Budaya Organisasi
Budaya Organisasi
adalah suatu karakteristik yang ada pada sebuah organisasi dan menjadi pedoman
organisasi tersebut sehingga membedakannya dengan organisasi lainnya. Dengan
kata lain, budaya organisasi adalah norma perilaku dan nilai-nilai yang
dipahami dan diterima oleh semua anggota organisasi dan digunakan sebagai dasar
dalam aturan perilaku dalam organisasi tersebut.
Beberapa ahli di bidang
ilmu sosiologi pernah menjelaskan mengenai defenisi Budaya organisasi,
diantaranya adalah:
1.
Susanto
Menurut susanto,
pengertian budaya organisasi adalah nilai-nilai yang menjadi pedoman bagi
sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan usaha
penyesuaian integrasi ke dalam organisasi, dengan begitu masing-masing anggota
organisasi wajib memahami nilai-nilai yang ada dan sebagaimana mereka harus
bertingkah laku atau berperilaku.
2.
Robbins
Menurut
Robbins pengertian budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang
dianut oleh masing-masing anggota yang membedakan sebuah organisasi dengan
organisasi yang lain.
3.
Gareth R. Jones
Menurut
Gareth R. Jones pengertian budaya organisasi adalah sebuah persepsi bersama
yang dianut oleh masing-masing anggota organisasi, suatu sistem dari makna
bersama.
4.
Walter R. Freytag
Menurut
Walter R. Freytag pengertian budaya organisasi adalah berbagai asumsi dan nilai
yang disadari atau tidak disadari yang mampu mengikat kepaduan sebuah
organisasi. Asumsi dan nilai tersebut menjadi penentu pola perilaku para
anggota di dalam organisasi.
5.
Larissa A. Grunig
Menurut
Larissa A. Grunig arti budaya organisasi adalah totalitas nilai, simbol, makna,
asumsi, dan harapan yang mampu mengorganisasikan sebuah kelompok yang bekerja
secara bersama-sama.
6.
Lathans (1998)
Menurut
Lathans pengertian budaya organisasi adalah norma-norma dan nilai-nilai yang
mengarahkan perilaku anggota organisasi. Semua anggota organisasi akan
berperilaku sesuai dengan budaya yang berlaku agar diterima oleh lingkungannya.
7.
Sarpin (1995)
Menurut
Sarpin, pengertian budaya organisasi adalah suatu sistem nilai, kepercayaan,
dan kebiasaan di dalam sebuah organisasi yang saling berinteraksi dengan
struktur system formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.
8.
Schein
Menurut
Schein pengertian budaya organisasi adalah sebuah pola dari berbagai asumsi
dasar yang ditemukan, diciptakan, atau dikembangkan oleh sebuah kelompok dengan
tujuan agar organisasi belajar mengatasi dan menganggulangi masalah-masalah
yang timbul akibat adaptasi eksternal dan integrasi internal yang sudah
berjalan dengan cukup baik. Dengan begitu, budaya organisasi harus diajarkan
kepada semua anggota baru sebagai cara yang benar untuk memahami, memikirkan,
dan merasakan berkenaan dengan masalah-masalah tersebut.
9.
Mondy dan Noe (1996)
Menurut
Mondy dan Noe pengertian Budaya Organisasi adalah sistem dari shared values,
keyakinan, dan kebiasaan yang ada pada sebuah organisasi yang saling
berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menciptakan norma-norma perilaku.
10. Hodge, Anthony, dan Gales (1996)
Menurut
Hodge, Anthony, dan Gales pengertian budaya organisasi adalah konstruksi dari
dua tingkat karakteristik, yaitu karakteristik organisasi yang kelihatan (observable)
dan yang tidak kelihatan (unoservable).
b.
Jenis / Tipe Budaya Organisasi
Dalam bukunya, Noe dan Mondy (1996:237) mengatakan
ada dua tipe Budaya Organisasi, yaitu:
1.
Open and Participative Culture
Budaya
organisasi ini ditandai dengan pencapaian tujuan output yang tinggi dengan
didukung adanya rasa percaya pada bawahan, komunikasi yang terbuka,
kepemimpinan yang supportif dan penuh perhatian, penyelesaian masalah secara
tim, adanya otonomi pekerja, dan berbagi informasi.
2.
Closed and Autocratic Culture
Budaya
organisasi ini ditandai dengan pencapaian tujuan output yang tinggi, namun
pencapaian tersebut mungkin lebih dinyatakan dan dipaksakan organisasi dengan
pemimpin yang otokrasi dan kuat.
Kesimpulan:
Kedisiplinan dalam sebuah organisasi memiliki
hubungan searah dengan motivasi pada budaya organisasi tersebut. Dalam sebuah
organisasi yang memiliki budaya organisasi yang kuat, pengolahan sumberdaya
manusia dipengaruhi oleh pola kepemimpinan dan motivasi intrinsik personal
dalam memandang tujuan organisasi. Yaitu tertuju pada perasaan senang atau
tidaknya anggota organisasi dalam menjalankan budaya organisasi yang sesuai
dengan cita-cita organisasi.
Sumber Referensi:
Wahab, Abdul Azis, Anatomi organisasi dan Kepemimpinan Pendidikan, Bandung:, penerbit Alfabeta, 2008
Ndraha. Taliziduhu. 1997. Budaya Organisasi: Perekat Organisasi Sukses. Majalah Pilar. No. 6.
Edisi 15-28. Maret. Jakarta.
Nur Octaviana, 2011. PENGARUH BUDAYA ORGANISASI
TERHADAP MOTIVASI DAN KEPUASAN KERJA SERTA
KINERJA KARYAWAN (skripsi). UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA